Uncategorized

5 Fakta Sidang Setya Novanto, Dari Nama SBY hingga Hakim Tertawa

Sidang Setya Novanto

JAKARTA – Proses persidangan terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto masih belum usai. Pada Kamis lalu, 25 Januari 2018, sidang memeriksa saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Beberapa fakta baru diungkap dalam sidang mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu. Di antaranya soal nama mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang diseret-seret dalam sidang itu. Tak kalah menarik, hakim berhasil dibuat tertawa oleh salah satu saksi.

Saksi-saksi yang dihadirkan adalah mantan anggota DPR dari Partai Demokrat periode 2009-2014 Mirwan Amir, mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman, dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Sugiharto.

Tak hanya itu, ada juga dua saksi lainnya dari pihak swasta, yakni pengusaha bernama Yusnan Solihin dan Direktur PT Data Aksara Matra, Aditya Priyadi. Yusnan mengaku bersahabat dengan Mirwan.

Berikut beberapa sorotan dari sidang Setya Novanto pada Kamis lalu.

1. Nama SBY Disebut
Mirwan, Yusnan, dan Aditya mendapat giliran pertama untuk bersaksi secara bersama-sama. Sementara Irman dan Sugiharto dipersilakan Ketua Hakim Yanto untuk meninggalkan ruang sidang.

Dalam kesaksiannya, Mirwan menyebutkan dia pernah menyarankan SBY untuk menghentikan proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Sebab, Mirwan mendapatkan informasi dari Yusnan bahwa ada masalah di program itu. Mirwan tak menjelaskan detail apa masalah yang dimaksud.

Saat sedang bersama-sama di Cikeas, Mirwan menyampaikan pandangannya itu kepada SBY. Sayang, kata dia, SBY menolak diberhentikannya proyek e-KTP. “Tanggapan SBY bahwa proyek ini harus diteruskan,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto menjelaskan, SBY hanya menjalankan amanah undang-undang mengenai e-KTP. Jika saat itu SBY tidak melaksanakan kewajibannya terkait dengan pengadaan e-KTP, kata Agus, ia dapat dinyatakan melanggar undang-undang.

2. Irman Rela Dicabut Nyawanya
Irman blak-blakan saat memberi kesaksian untuk Setya. Irman membantah kesaksian pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong ihwal pertemuannya dengan Setya. Menurut Irman, dirinya mengenal Setya melalui perantara Andi.

“Memutarbalikkan fakta kalau saya yang mengenalkannya,” kata Irman.

Irman memaparkan, saat pertama kali bertemu Andi di ruang kerjanya, Andi hendak memperkenalkannya dengan Setya. Hal itu untuk membahas proyek kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP.

Selain itu, menurutnya, Andi pernah menjadwalkan tiga kali pertemuan dengan Setya Novanto untuk membahas proyek megakorupsi itu. “Kali ini saya dicabut nyawa, saya rela. Itu (Andi) memutarbalikkan fakta,” kata Irman.

3. Setya Novanto Disebut Kunci E-KTP
Andi mengatakan kepada Irman bahwa Setya adalah pemegang kunci proyek e-KTP. Artinya, anggaran proyek ini ditentukan oleh Setya.

Irman memang tak mengetahui seperti apa peran Setya dan berapa total uang yang diterima dari aliran dana proyek megakorupsi itu. Ia hanya mendengar dari Andi bahwa Setya adalah kunci e-KTP.

Adapun Andi menyatakan agar Irman tak khawatir dengan persoalan uang. Sebab, Andi akan memfasilitasi keperluan dana yang diperlukan Irman. Agar kucuran dana mulus, Irman harus diperkenalkan dulu dengan Setya.

Sugiharto juga menyatakan hal yang sama. Ia mendengar dari Andi dan Johannes Marliem bahwa kunci e-KTP ada di Setya.

 

4. Setya Novanto Minta Maaf
Setya membantah turut campur tangan dalam pembahasan anggaran proyek e-KTP. Ia juga memohon maaf kepada Irman karena sengaja menolak kedatangan pejabat Kementerian Dalam Negeri itu.

“Irman pernah ke rumah saya bersama Pak Andi (Narogong), tapi tidak masuk. Saya mohon maaf,” kata Setya.

Setya mengaku keberatan dengan kedatangan pihak tertentu yang ingin membahas masalah anggaran. Padahal, kata Setya, dia biasa menerima tamu di jam berapa pun, bahkan ketika sudah berganti hari.

Kebiasaan menerima tamu jam berapa pun itu, kata Setya, diterapkan saat dia menjabat Ketua Fraksi Golkar dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). “Jadi saya mohon maaf sekali lagi kalau tidak menerima,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Irman berujar, Andi Narogong memang pernah menjadwalkan pertemuan dengan Setya sebanyak tiga kali untuk membahas proyek e-KTP. Pertemuan pertama di Hotel Gran Melia, Jakarta.

Pada pertemuan kedua, Andi mengajak Irman berkunjung ke ruang kerja Setya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Ketiga kalinya, barulah Andi menjadwalkan pertemuan di kediaman Setya di Jalan Wijaya XIII, Jakarta Selatan

Menurut Irman, Setya masih menerima tamu saat dia tiba. Alhasil, Irman harus menunggu sekitar 20-30 menit. Namun akhirnya Irman memutuskan tak jadi menemui mantan ketua DPR itu. “Saya bilang kalau lama tidak usah. Jadi, (saya) tidak ketemu,” ujar Irman.

5. Sugiharto Buat Hakim dan Pengunjung Sidang Tertawa
Sidang Kamis lalu memang cukup panjang. Total sidang berlangsung hampir 12 jam. Sidang dimulai sekitar 10.24 WIB dan baru usai ketika jam mendekati pukul 22.30 WIB. Mengikuti jalannya sidang dari pagi hingga malam hari bisa saja membuat majelis hakim, jaksa dan pengacara, suntuk.

Namun Sugiharto membuat hakim, jaksa, pengacara, dan pengunjung sidang tertawa. Waktu itu, jaksa memutarkan bukti berupa rekaman percakapan. Jaksa menduga, percakapan itu dilakukan oleh Sugiharto, Johannes Marliem, dan Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo.

Jaksa menanyakan siapa bos dan inisial nama S yang disebut dalam percakapan itu. Awalnya, Sugiharto tampak ragu menyebut nama Setya Novanto. Ia melihat jaksa terlebih dulu sambil tersenyum.

Setelah ditanyakan beberapa kali, Sugiharto akhirnya berujar bahwa bos dan inisial S yang dimaksud itu adalah Setya. Ketika mengatakan hal itu, posisi duduk Sugiharto menghadap kiri ke arah meja jaksa. Artinya, Sugiharto membelakangi Setya. Yang membuat hadirin tertawa, ketika Sugiharto menyebut nama Setya, dia sempat melirik ke arah mantan ketua umum Partai Golkar itu.

Meski mengundang tawa, keseluruhan kesaksian Sugiharto dinilai jujur dan apa adanya. Penilaian itu disampaikan sendiri oleh Ketua Majelis Hakim Yanto.

Facebook Comments
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com