Berita Liputan Khusus

Safari Dakwah di Sitiarjo Memadukan Wisata Religi dan Alam

MALANG – Safari Dakwah Dai-Daiyah di Pesantren Cinta Al-Quran Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kegiatan yang dihelat 24-25 Februari 2018 ini, adalah bagian dari Gebyar Santri Nusantara.
Acara yang didukung Kementerian Pariwisata ini menghadirkan sejumlah Da’i dan Da’iyah dari berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Surabaya, Bandung, dan Bogor.
Meski sempat diguyur hujan, semangat 1.000 peserta tidak surut. Kegiatan Dzikir TQN pun tidak terganggu. Para santri tetap memperlihatkan bakatnya. Seperti drum band, tari seni islami, seni suara, pencak silat dan lainnya.
Acara yang digagas Ketua Yayasan Pesantren Cinta Al-Quran Sitiarjo Ustad H.  Deden Jaenal Abidin ini unik. Karena, memadukan wisata religi dan wisata alam.
Selama dua hari, selain diajak mendengarkan tausiyah dari da’i dan da’iyah, peserta juga diajak menikmati indahnya pantai Kangen.
“Di sini masyarakatnya mayoritas non muslim. Kegiatan seperti ini tujuannya untuk menguatkan iman masyarakat muslim, dan memperkuat rasa toleransi. Karena acara ini juga melibatkan masyarakat non muslim,” terang Ustadz Deden.
Kegiatan ini juga dipadukan dengan wisata alam. Menurut Ustadz Deden, hal itu dilakukan karena di daerah ini banyak potensi wisata. Banyak terdapat pantai di sepanjang jalur selatan. Di antaranya Pantai Sendang Biru, Pantai Tiga Warna, Pantai Kangen, Pantai Bajul Mati, Pantai Teluk Asmara dan banyak lagi.
“Tempat wisata adalah anugerah Allah. Harus dijaga bersama untuk memberikan manfaat untuk masyarakat. Selain itu, harus diperkuat dengan religi agar tempat-tempat wisata ini jangan sampai dijadikan tempat maksiat,” jelas Ustadz Deden.
Usai seharian mendengar tausiyah dan menyaksikan aneka pertunjukkan, keesokan harinya digelar sholat malam dan Dzikir TQN di area Pantai Kangen. Dilanjutkan dengan sholat Subuh berjamaah, Dzikir, Sholat Isyroq dan olahraga bersama.
“Mereka juga diajak wisata religi mengunjungi Masjid Ghoib/Sanan. Selain itu, ada kegiatan Santunan 60 Yatim, bakti sosial, dan
3 Jam membuat Musholla dan Perpustakaan Da’i-Da’iyah. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Kemenpar yang sudah mendukung kegiatan ini,” paparnya.
Kepala Bidang Pemasaran Area I (Jawa) Wawan Gunawan mengatakan, Kemenpar memang sudah berkomitmen akan mendukung kegiatan wisata religi. Menurutnya, dengan cara pendekatan agama dengan kombinasi wisata religi, muncul kesadaran untuk menjaga wisata alamnya.
“Karena dengan itu akan muncul kesadaran menjaga alam, tidak merusak alam, membuang sampah pada tempatnya, seperti apa yang diperlihatkan oleh akhlak Nabi Muhammad kepada umatnya, Wisata Religi itu lebih mengena dan cepat diterjemahkan oleh masyarakat,” ujar Wawan Gunawan.
Pria yang juga ki dalang kondang Wayang Ajen ini mengatakan, penguatan pada atraksi-atraksi santri kedepannya bakal menjadi daya tarik kunjungan wisatawan. Baik dari nusantara maupun mancanegara.
“Dukungan ini juga sebagai respons terhadap ide kreatif masyarakat, khususnya pondok pesantren, para jamaah, santri dan masyarakat yang peduli pada kegiatan yang menitikberatkan pada pengembangan kegiatan pariwisata,” ujarnya.
Sementara Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, keberadaan pesantren dengan jumlahnya yang besar, dapat menjadi pusat pengembangan wisata religi. Hal ini dapat sejalan dengan pengembangan wisata halal.
“Sehingga atraksi wisata halal akan semakin banyak dan lebih banyak pilihan bagi wisatawan,” ujar Menpar Arief Yahya.
Potensi ini dikatakanya harus terus dikembangkan. Sebab, keberadaan pesantren yang dapat menjadi pusat pengembangan wisata, bisa menjadikan Indonesia peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal di dunia.
“Tetapi para santri juga harus melek teknologi dan jejaring media di dunia maya. Santri zaman now yang melek digital ini harus menjadi trigger untuk menjadikan pesantren sebagai destinasi yang bisa dikunjungi,” pungkas Menpar Arief Yahya.
Facebook Comments
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com