Potensi Tsunami, Peringatan, Hingga Upaya Mitigasi Gempa Dan Tsunami Pacitan

Potensi Tsunami Di Pacitan

Jagatberita.com – Masyarakat Pacitan perlu waspada. Daryono, Kepala Mitigasi Gempa Dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG), mengungkap adanya potensi gempa dan tsunami yang bisa terjadi di Pacitan.

BMKG mengingatkan potensi gempa dan tsunami ini, bisa mencapai 28 meter dan bisa menerjang kawasan tersebut dalam waktu 29 menit.

Read More

Kewaspadaan sangat diperlukan agar mengurangi risiko yang ditimbulkan adanya gempa dan tsunami. BMKG juga menyampaikan bahwa Gempa dan Tsunami ini mengintai Pesisir Pantai Selatan Jawa. Disebabkan adanya pergerakan lempeng Tektonik Indo-Austria dan Eurasia.

Potensi Tsunami Pacitan (jagatberita.com)

Daryono juga menjelaskan catatan sejarah gempa seperti ini pernah terjadi beberapa kali di pacitan.

Pertama,  4 Januari 1840 terjadinya gempa di jawa yang memicu Tsunami di pacitan.

Kedua, 20 Oktober 1859, terjadi lagi gempa besar yang menimbulkan tsunami menerjang Teluk Pacitan, menewaskan beberapa orang awak kapal.

Ketiga,gempa terjadi 11 September 1921 dengan Magnitud 7,6. Pusat gempa ini terletak di zona outer rise selatan Pacitan yang juga memicu tsunami hingga Cilacap.

Keempat, gempa berskala besar pada 27 September 1937. Dampak gempa ini mencapai skala intensitas VIII-IX MMI menyebabkan 2.200 rumah roboh dan banyak orang meninggal.

(Sumber : CNNIndonesia.com)

Penyebab Pacitan Sering Gempa

Daerah pacitan, menjadi daerah yang rawan gempa, karena daerah ini berhadapan dengan zona Megatrust.

Seperti yang diungkap oleh Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami, dari hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas kegempaan sejak 2008, wilayah selatan Pacitan beberapa kali terbentuk kluster Seismisitas Aktif. Namun demikian pusat gempa tidak membetuk gempa besar.

Wilayah selatan Pacitan merupakan Zona Aktif Gempa, dan beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan aktivitas kegempaan yang sangat aktif.

Baca Juga :   Gempa Terkini : Gempa Bermagnitudo 5,3 Terjadi Di Malang, BMKG Himbau Masyarakat Waspada

“Potensi magnitudo maksimum gempa megathrust selatan Jawa Timur hasil kajian adalah 8,7. Nilai magnitudo gempa tertarget ini oleh tim kajian BMKG dijadikan sebagai inputan pemodelan tsunami untuk wilayah Pacitan,” kata Daryono.

Morfologi Pacitan juga berbentuk teluk, sehingga lebih berbahaya ketika terjadi Tsunami. Karena energy tsunami yang masuk kekawasan teluk akan terakumulasi. Gelombangnya akan berkumpul sehingga tsunami bisa semakin tinggi.

Bahkan jika daerah teluknya landau tsunami bisa meluas sangat jauh.

Upaya Mitigasi Bencana

Upaya Pemasangan Rambu-rambu peringatan Gempa dan Tsunami (jagatberita.com)

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diupayakan untuk mitigasi bencana, agar bisa mencegah banyaknya korban saat Tsunami. Daryono berpendapat, masyarakat perlu memahami konsep evakuasi Mandiri, yaitu upaya penyelamatan yang dilakukan secara mandiri (tanpa bantuan petugas), ini merupakan jaminan penyelamatan yang terbukti efektif.

Selain itu juga memerlukan adanya fasilitas pendukung, seperti rambu yang terpasang secara permanen. Hal ini akan membuat kecepatan evakuasi korban menuju titik kumpul jadi lebih cepat.

Masyarakat juga harus selalu memperhatikan rambu-rambu dan peringatan dini yang diberikan oleh BMKG.

Selain itu, pemerintah daerah harus selalu sigap dan cepat dalam merespon peringatan tsunami, untuk selanjutnya segera mengaktivasi sirene.

Dengan begitu upaya mitigasi gempa dan tsunami bisa berjalan cepat.

Related posts