Persiapan Krisis Pangan, NFA Gandeng BMKG Untuk Sediakan Sumber Informasi

Krisis Pangan

JagatBerita.com – Seperti yang telah disampaikan oleh presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, dampak iklim kian terasa memburuk. Di tahun 2021 ini suhu udara ditingkat paling panas selama tujuh tahun terakhir.

Dampak perubahan iklim ini juga berpengaruh pada banyak hal, salah satunya adalah semakin banyak terjadi bencana alam. Selain itu, perubahan iklim juga berpengaruh pada ketahanan pangan. Menghadapi tantangan dari perubahan iklim ini, banyak pihak yang sudah mulai bersiap diri.

BMGK Bertindak Sebagai Sumber Data dan Informasi

Di Indonesia, Badan Pangan Nasional (National Food Agency/NFA) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai mencari upaya mengatasi masalah pangan yang mungkin akan terjadi.

Untuk meminimalisir dampak yang akan terjadi akibat perubahan ikli ini, BMKG akan membantu upaya ini melalui pembagian perkiraan cuaca, curah hujan, terjadinya resiko bencana dan berbagai data dukungan lain yang akan diintegrasikan dengan website NFA.

Data dan informasi yang dibagikan ini sangatlah penting untuk informasi yang bisa digunakan oleh stakeholder pangan. Dengan mengetahui iformasi cuaca, resiko bencana dan curah hujan akan dapat membantu mengarahkan aktivitas budidaya dan distribusi pangan.

Data dari BMKG ini nantinya dapat digunakan untuk mengukur curah hujan dan dapat digunakan untuk mobilisasi stok pangan. Dengan cara ini diharapkan akan dapat diunakan mencegah terjadinya kerawanan pangan di daerah.

Perubahan Iklim Jadi Ancaman Ketahanan Pangan Indonesia

Perubahan iklim akan jadi tantangan besar bagi Indonesia. Menurut informasi dari BMKG pada 8 Agustus 2022 lalu, kenikan suhu di Indonesia selama 42 tahun terakhir ini telah mencapai 0.02 hingga 0.443 derajat celcius. Perubahan suhu tertinggi ada di Kalimantan Timur yng mencapai 0.47 derajat ceocius.

Baca Juga :   Profil Bagus Kahfi Sang Pemain Bola di Liga Yunani

Menurut analisa BMKG, kenaikan suhu di akhir abar 21 akan mencapai 3 derajat celcius dan menyebabkan perubahan iklim ekstrim.Perubahan ini tentunya juga akan menjadi ancaman ketahanan pangan di Indonesia.

Berbagai bencana yang ditimbulkan dari perubahan iklim ini juga mengancam kegiata dalam pertanian dan perikanan. Untuk itulah infomasi terkait cuaca akan sangat dibutuhkan dan akan membantu petani serta nelayan bisa mempersiapkan diri.

Persiapan Menghadapi Krisis Pangan

Saat ini sejumlah negara juga mulai membatasi ekspor pangan. Dan 22 negara pengekspor pangan dunia juga sudah menghentikan ekspor untuk memenuhi cadangan pangan negara mereka. Indonesia juga harus mempersiapkan kemandirian pangan.

Di awal pemerintahan presien Joko Widodo di 2014, Pemerintah telah menargetkan keberhasilan swasembada pangan. Sesuai dengan rencana di tahun 2016 ditargetkan swasembada padi, tahun 2017 menjadi target swasembada jagung, lalu tahun 2019 jadi swasembada gula dan di tahun 2020 ditergetkan swasembada kedelai.

Namun target yang direncanakan ini sampai saat ini belum terwujud lantaran berbagai kendala yang dihadapi pemerintah. Sementara Kementrian Pertanian mengklaim program Food Estate yang dikembangkan di wilayah di Kalimantan Tengah, Humbahas dan Sumba.

Pemerintah melalui kementrian pertanian berupaya mendorong masyarakat terutama petani untuk mengantisipasi krisis pangan dengan meningkatkan stok pangan dalam negeri. Rencana pemerintah dalam upaya menghadapi krisis ketahanan pangan antara lain:

  • Himbauan Masyarakat Bercocok Tanam, Presiden Joko Widodo dalam hal ini menghimbau masyarakat untuk memanfaatkan lahan terlantar untuk menanam berbagai produk pangan
  • Menyiapkan Sumber Makanan Alternatif, ada banyak jenis alternative makanan pengganti beras yang bisa ditiingkatkan seperti jagung, sorgun ataupun sagu
  • Mengamankan Suplai, Diversifikasi, dan Efisiensi, dalam hal ini pemerintah akan meningkatkan produksi hasil pertanian dan kelautan.
Baca Juga :   RIP Michael K Williams, Tak Disangka Lukanya Pernah Membawa Hoki

Related posts