Dilema Keinaikan Harga Pertalite, Dampak dan Solusinya

JagatBerita.com -Kabar kenaikan harga pertalite nampaknya meresahkan banyak kalangan. Keputusan pemerintah soal kenaikan harga pertalite ini akan segera diumumkan minggu depan oleh Presiden Joko Widodo. Namun ada keresahan dari sebagian kalangan terkait akibat dari kenaikan pertalite yang mempengaruhi perekonomian di Indonesia.

Dampak yang Mungkin Terjadi

Kenaikan pertalite mungkin jadi kebijakan yang dianggap perlu  dilakukan oleh pemerintah, namun menurut pendapat beberapa pakar kenaikan bahan bakar bersubsidi ini akan menyebabkan beberapa masalah dalam perekonomian. Berikut beberapa masalah yang kemungkinan bisa terjadi seperti dikutip dari Cnnindonesia.com

1. Kenaikan Harga Pangan

Kenaikan harga pertalite ini secara otomatis akan mempengaruhi harga pangan. Kenaikan harga pangan ini terimbas dari transportasi untuk distribusi bahan makanan juga mengalami kenaikan.  Dengan beban biaya transportasi yang melonjak akan membuat hara pangan juga ikut mengalami kenaikan.

2. Daya Beli Masyarakat Menurun

Kenaikan harga pangan juga akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Dengan harga yang melonjak tinggi kemampuan membeli barang bagi masyarakat menengah ke bawah juga akan menurun. Dengan menurunnya konsumsi masyarakat juga akan berdapak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi.

3. Angka Kemiskinan Meningkat

Harga pangan yang melonjak membuat masyarakat kalangan bawah makin sulit. Kemampuan membeli kebutuhan hidup yang menurun juga akan meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia. Dengan bertambahnya angka kemiskinan, juga akan meningkatkan kesenangan sosial.

4. Lonjakan Inflasi

Dengan adanya kenaikan pertalite juga memungkinkan terjadinya lonjakan inflasi yang lebih dari perkiraaan. Keadaan ini akan memperburuk perekonomian di masyarakat yang belum pulih pasca Covid-19. Akibat yang ditimbulkan dari kenaikan pertalite ini jadi masalah berantai dalam perekonomian.

Baca Juga :   Cara Cek Bantuan Subsidi Upah di Kemnaker.go.id Login

Kenapa Harga Pertalite Naik?

Menurut kabar yang beredar  kenaikan pertalite nantinya sekitar Rp 2000 hingga Rp 3000. Harga dari Rp 7.500 akan naik menjadi Rp 9.500 hingga Rp 10.000. Tentunya keputusan menaikan harga bahan bakar bersubsidi ini bukannya tanpa alasan.

Konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina ini membawa dampak pada pasokan minyak dunia. Adanya embargo yang diberlakukan di negara-negara tertentu akan mengakibatkan berkurangnya suplai minyak hingga 10%.  Terlepas dari kenaikan harga minyak dunia, masalah kenaikan pertalite ini lebih didorong oleh masalah pembengkakan APBN di subsidi minyak.

Harga pertalite di pasaran saat ini di kisaran Rp 17. 500, sedangkan harga jual pertalite saat ini Rp. 7.650 per liter. Jadi pemerintah menanggung subsidi bahan bakar ini seharga Rp 9.550 per liternya.  Kuota Pertalite tahun ini ditetapkan23 juta kl, sedangkan dari kuota yang sudah ditetapkan ini hingga bulan Juli 2022  sudah terpakai  16,8 juta kl.

Sisa kuota Pertalite bersubsidi  yang belum disalurkan saat in tinggal 6,32 juta kl. Dengan keterangan ini, APBN untuk belanja BBM bersubsidi ini akan melebih anggaran yang sudah ditetapkan sebesar Rp 502 trilliun. Belum lagi ditambah kenaikan harga  minyak dunia. Masalah ini jadi beban dalam APBN BBM yang ditetapkan pemerintah.

Solusi Atasi Kenaikan Pertalite

Dengan resiko yang akan ditanggung negara, beberapa ekonomo menyarankan solusi yang mungkin bisa ditempuh pemerintah selain menaikan harga BBM, berikut beberapa saran yang diberikan tokoh ekonomi terkait solusi terbaik.

  • Membatasi subsidi BBM yang tidak tepat sasaran
  • Penyaluran pertalite hanya untuk wilayah daerah, sedang perkotaaan menggunakan pertamax
  • Larangan yang diberlakukan untuk mobil mewah menggunakan pertalite
  • Menetapkan jenis roda dua dan angkutan umum yang boleh menggunakan pertalite dan solar
  • Memasukan jenis kendaraan yang boleh menggunakan BBM bersumsidi dalam peraturan
  • Membatalkan kenaikan harga pertalite dan menggantinya dengan kenaikan harga solar
Baca Juga :   4 Aplikasi Lowongan Kerja Terpercaya Di Indonesia

Related posts