NILAI TUKAR DOLAR KE RUPIAH MELEMAH, INDONESIA KHAWATIRKAN TAPERING

Sumber : Google.com

JagatBerita.com- Nilai tukar rupiah pada pagi ini Kamis 19 Agustus 2021 terhadap dolar Amerika Serikat melemah 0,25% dengan level Rp. 14.410 per dolar AS. Selain mata uang Indonesia, sejumlah mata uang nagara Asia juga mengalami pelemahan seperti : Yen Jepang melemah 0,37%, dolar Hong Kong 0,07%, dolar Singapura 0,27%, dolar Taiwan 0,14%, won Korea Selatan 0,58%, peso Filipina 0,22%, yuan Tiongkok 0,14%, ringgit Malaysia 0,07% dan bath Thailand 0,25%. Sementara rupee India jadi satu-satunya yang masih bergerak menguat 0,14%.

Kelompok negara maju juga tampak mengalami pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat seperti poundsterling Inggris turun 0,15 %, dolar Australia melemah 0,11 %, dolar Kanada turun 0,14 %, dan Franc Swiss koreksi 0,20 %.

Menurut hasil analisis Pasar Uang, Ariston Tjendra mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah bersama mayoritas mata uang lainnya disebabkan pasar mengantisipasi kemungkinan pengetatan (tapering) kebijakan moneter bank sentral Amerika (The Fed). Selain itu menurut Ariston tekanan terhadap rupiah juga disebabkan oleh kekhawatiran pasar terhadap kenaikan kasus Covid-19 yang belum menunjukkan penurunan.

Sumber : Google.com

Kebijakan tapering merupakan suatu kebijakan pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE). Dilansir dari Sindonews.com kebijakan tapering memungkinkan bank sentral akan mengurangi porsi pembelian surat hutang dari sebelumnya dilakukan. Hasil prediksi 28 analisis dari total 43 memprediksi bahwa The Fed akan mengumumkan kebijakan tapering pada bulan September. Sementara itu prediksi mengenai kapan tapering akan mulai dilakukan, sebanyak 26 dari 43 analis memprediksi pada kuartal I-2021. Sementara sisanya mengatakan tapering pertama akan dilakukan di kuartal IV-2021.

Kebijakan tapering ini sangat mengkhawatirkan menteri keuangan Srimulyani, melalui wawancara di bulan Juni lalu Sri Mulyani menyatakan bahwa jika kebijakan tapering benar akan terjadi maka arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang (emerging country) akan mengalir deras. Penambahan kasus Covid-19 dan datangnya varian baru Delta akan menyebabkan keadaan krisis keuangan ini berlangsung lebih lama dibandingkan 2008 silam.

Baca Juga :   Mengenal PayPal dan Tips Aman Bertransaksi

Tapering yang pernah terjadi pada 2013 lalu menyebabkan aliran modal keluar dari negara berkembang (emerging market) dan kembali ke Amerika, keadaan ini disebut dengan taper tantrum. Taper tantrum akan menyebabkan aset-aset yang beresiko berguguran. Selanjutnya mata uang rupiah akan mengalami tekanan yang lama. Jika dilihat dari kedudukan rupiah yang stagnan kemarin dengan kedudukan masih tertahan di bawah resisten Rp 14.400/US$ hingga 14.410/US$. Keberadaan nilai tukar belum berada pada perubahan level-level yang harus diperhatikan. Namun, jika hari ini level nilai tukar tersebut terus di lewati rupiah, maka tidak menutup kemungkinan akan jeblok ke Rp 14.450/US$. Penutupan perdagangan di atas level tersebut akan membawa rupiah menuju Rp 14.500/US$ bahkan bisa lebih tinggi lagi di pekan ini.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) saat ini menjadi penentu kekuatan rupiah. Bank Indonesia (BI) hari ini diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Dilansir dari Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, perkiraan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan bertahan di 3,5%. Perubahan suku bunga acuan terakhir kali dilakukan oleh BI pada Februari 2021, yang mana kala itu kala itu BI 7 Day Reverse Repo Rate diturunkan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%, terendah sepanjang sejarah. Hingga sekarang belum dilakukan perubahan lagi. Hasil kebijakan BI terhadap kemungkinan tapering menjadi sorotan penting. Sesuai amanat utama BI yaitu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, maka BI harus dapat menjaga suku bunga tetap kompetitif sehingga arus modal asing berkenan masuk ke Indonesia.

Related posts